Feeds:
Pos
Komentar

Gambar Stop dreaming start action

Sebuah artikel menarik dari suami tercinta.:))

Kalo diterjemahkan secara bebas, Stop Dreaming Start Action berarti Berhenti bermimpi mulailah beraksi. Lho ? Katanya semua diawali dengan mimpi, sekarang koq ga boleh?. Bukan ga boleh, kita semua kan faham kalo semua pencapaian diawali oleh ”mimpi”. dream, courage yang lantas HARUS diikuti oleh action, aksi, tindakan yang nyata untuk mewujudkannya. Sebelum diskusi, mending kita nonton videonya Tony Robbins dolo, yang membahas tentang

Why we do what we dreaming of, and how we can start action better – its all about motivate people actions.

Tony Robbins membahas tentang “invisible forces” that motivate everyone’s action, ”kekuatan tak terlihat” yang memotivasi setiap manusia untuk bertindak.

Bagi saya, kebanyakan dari kita hanya mau bermimpi, berandai-andai, berkhayal tanpa membayar harganya. Apa harga yang harus dibayar? ACTION, kerja keras dan membangun kepantasan untuk mendapatkan impian kita. Tak ada cara lain!

Seringkali kita juga ditakut-takuti oleh perhitungan yang menurut kita pasti terjadi. Batal bertindak karena studi kelayakannya menunjukkan hasil yang kurang layak. Kita berlagak seperti seorang ahli ketika akan memulai sesuatu, yang akibatnya, kita jadi batal untuk mulai action. Guru saya mengatakan dalam bukunya, action first, think then… yang berarti Action dulu atau kerja dulu, pikir belakangan.

Masalah dreaming, dream, mimpi, apabila kita tidak cerdas menyikapinya bisa jadi bumerang. Banyak sekali orang membuat keterikatan mimpi dengan kebahagiaan yang sempit. Gampangnya seperti ini kalo ga tercapai mimpinya, akan stress, bersedih, kalut yang ujung2nya akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan mimpinya. Padahal menurut saya keterkaitan mimpi dengan kebahagiaan adalah kecil. Kebahagiaan sangatlah mudah didapatkan, sedang mimpi butuh perjuangan. Saya sangat bahagia diberi kesehatan, istri cantik, waktu luang, meski impian saya masih BANYAK yang belum tercapai. So simple isn’t it?

Saya setuju dengan judul artikel ini, Stop dreaming start action improve everyday. Jangan terlalu sibuk dengan perhitungan yang sebenarnya hanya apologi dari ke-pengecut-an Anda. Beraksilah, Bergeraklah !

Sumber :

Stop dreaming start action

Ngapain Ajah Seeh…????

Gak tau deh…sudah berapa lama blog ini gak diurus. Dalam arti tidak pernah terupdate…

Mohon maaf yang sudah comment tapi dicuekin..

Memang sudah terbersit untuk membuat blog lain yang lebih mudah diingat…

Alahmdulillah sudah kesampaian…Sekalian nih buat pengumuman kalo saya bikin blog baru www.missunita.co.cc

Namanya hampir sama kok…malah lebih singkat…

Jadi postingan berikutnya ada di blog baru itu…Silahkan berkunjung ke rumah baru saya…!!

Pada postingan sebelumnya, saya sempat membahas mengenai aktivitas bermain yang merupakan suatu bagian aktivitas mengembangkan kemampuan sosial. Sebagai suatu aktivitas yang esensial dalam perkembangan masa anak-anak, bermain juga memiliki hubungan dengan perkembangan kognitifnya.

Sebelumnya kita perlu tahu, bahwa kemampuan kognitif atau berpikir anak memiliki ciri yang khas. Seorang ahli psikologi, Jean Piaget mengemukakan teori yang lebih dikenal dengan Piaget’s Cognitive Developmental Theory karena memusatkan perkembangan anak pada aspek kognitifnya (kemampuan berpikir). Piaget membagi tahapan perkembangan kognitif anak dalam 4 tahapan yaitu Sensorimotor (0-2 tahun), Praoperasional (2-7 tahun), Operasional Konkrit (7-11 tahun), dan Operasional Formal ( 11-15 tahun). Lanjut Baca »

Postingan ini asli curhat, mungkin sama sekali tidak ada hubungannya dengan postingan-postingan sebelumnya. Habis saya merasa dikecewakan tapi gak tahu harus mengadu kemana. Ini terkait dengan kebijakan Pemerintah Kota Surabaya untuk melakukan pendataan ulang warganya melalui Program Collecting Data Perekaman Sidik Jari.

Begini cerita lengkapnya…

Saya memang baru mencatatkan diri sebagai warga Surabaya dan memegang KTP Surabaya resmi sejak 29 Februari 2008 (sesuai yang tercatat di KTP). Beberapa minggu kemarin diumumkan agar warga tempat tinggal saya melakukan perekaman sidik jari di kelurahan pada tanggal 30 April atau 2 Mei. Wah…berhubung pengen jadi warga yang tertib nih (halah…) saya datang ke kelurahan tanggal 2 Mei. Semangat banget itu…segala dokumen seperti KSK dan KTP sudah saya siapkan juga, beserta fotocopynya. Ternyata yang semangat seperti saya juga banyak lho. Lanjut Baca »

Sudah sering bertemu dengan beberapa ibu (mantan wali murid saya) yang seperti kebakaran jenggot ketika putra putrinya mengikuti tes seleksi SD. Bayangkan, banyak SD-SD favorit menjadikan menu “baca-tulis-hitung” sebagai parameter seleksi siswanya. Beberapa bahkan merayu guru habis-habisan agar putra-putrinya didrill baca tulis. Saya sendiri lebih percaya bahwa anak akan mampu baca tulis dengan sendirinya jika Ia sudah siap. Stimulus dari lingkungan pastinya akan menumbuhkan kesiapan tersebut, namun bukan berarti memforsir anak untuk menghapalkan deretan huruf dan angka.

Saya sendiri dulu baru bisa membaca ketika kelas 1 SD. Saya tidak ingat prosesnya. Namun lulus TK jelas-jelas saya belum bisa membaca, walaupun sudah kenal alfabet. Berdasarkan pengalaman pribadi ini, “keterlambatan” ini tidak berdampak banyak di masa depan saya. Toh..saya tidak pernah mengalami kesulitan dalam mengikuti pendidikan saya. Kemampuan menulis saya  juga berkembang dengan baik (paling tidak saya  bisa menulis  postingan di blog ini :P).  Saya juga menjadi penggemar buku dan novel. Dari blog seorang sahabat yang pernah mengikuti pendidikan pra sekolah di Jerman, di sana anak-anak TK tidak ditekankan untuk bisa membaca atau menulis. Tentu fakta berkata, tidak berarti orang-orang Jerman akhirnya kalah hebat dengan orang-orang Indonesia yang waktu kecilnya sudah mampu membaca buku-buku tebal (walaupun ada juga orang Indonesia yang lebih hebat dari orang-orang Jerman).

Memang tidak salah bila anak sudah bisa membaca sejak usia dini. Yang sering kurang tepat adalah cara untuk membuat anak bisa membaca. Dan yang lebih tepat lagi adalah Menstimulus anak agar berkembang minat membacanya. Percuma dong, sejak kecil bisa membaca namun akhirnya malas untuk membaca buku atau sumber informasi lainnya. Lanjut Baca »

kado

Mungkin sampai usia pernikahan keberapapun kami berdua (saya dan hubby – tentunya) tidak susah-susah cari acara untuk memperingati ulang tahun pernikahan. Kami berdua sudah punya acara tahunan…(mengenang malam pertama tentunya…xixixixi…:P dan acara buka kado)

Kami berdua menikah tanggal 7 April 2007, jadi bulan ini kami baru merayakan ulang tahun pernikahan. (Selamat…duuhhh, gak bilang sih tau gitu kan kasih kado …–> mungkin begitu dalam pikiran anda yah…hehehe…ge er mode on). Yang jelas walau tidak menerima kado di ulang tahun pernikahan tapi kami masih bisa melakukan acara buka kado. Ceritanya waktu menikah setahun kemarin (Alhamdulillah) banyak sahabat dan kerabat yang memberikan kado. Beberapa sih saya buka, utamanya yang diberikan langsung kepada saya…namun lebih banyak lagi yang masih terbungkus rapi…Heeemmm…jumlahnya kurang lebih 70 an. Lanjut Baca »

bermain

Buat kita orang dewasa bermain adalah lawan kata dari bekerja. Beberapa dari kita mungkin sering mencuri waktu di padatnya jadwal kerja dengan main computer game. Atau susah payah menyisipkan kegiatan bermain tenis di padatnya jadwal kerja. Tapi tentu ini berbeda dengan anak-anak. Bagi anak-anak bermain adalah pekerjaannya. Di tahap perkembangan nantinya mereka tidak akan pernah sesibuk itu bermain.

Bagi orang dewasa, bermain memang benar-benar berlawanan dengan aktivitas bekerja. Bekerja identik dengan aktivitas yang merupakan keharusan. Memang banyak orang yang menyukai pekerjaannya (beruntunglah mereka..:P), namun lebih banyak lagi yang mengeluhkan rutinitas kerja. Bermain identik dengan kegiatan yang menyenangkan, mengendorkan urat syaraf, menghadirkan antusiasme, serta rekreatif. Tentu saja, aktivitas bermain anak-anak memiliki karakteristik yang khas (walaupun tidak sepeuhnya berbeda dengan bermain orang dewasa).

Di bidang psikologi, para ahlinya memberikan perhatian khusus pada kegiatan bermain anak. Bukan saja karena anak-anak identik dengan masa bermain. Di sisi lain, bermain memiliki banyak peranan bagi perkembangan anak-anak. Dalam perkembangannya, bermain juga dimanfaatkan oleh para terapis untuk memberikan terapi atau penanganan bagi anak-anak dengan gangguan atau masalah khusus. Biasanya terapi itu lebih dikenal dengan sebutan play therapy. Bahkan di Indonesia juga memiliki psikolog yang ahli di bidang terapi bermain yaitu Mayke Tedjasaputra – psikolog dari Universitas Indonesia. Lanjut Baca »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.