Pada postingan sebelumnya, saya sempat membahas mengenai aktivitas bermain yang merupakan suatu bagian aktivitas mengembangkan kemampuan sosial. Sebagai suatu aktivitas yang esensial dalam perkembangan masa anak-anak, bermain juga memiliki hubungan dengan perkembangan kognitifnya.

Sebelumnya kita perlu tahu, bahwa kemampuan kognitif atau berpikir anak memiliki ciri yang khas. Seorang ahli psikologi, Jean Piaget mengemukakan teori yang lebih dikenal dengan Piaget’s Cognitive Developmental Theory karena memusatkan perkembangan anak pada aspek kognitifnya (kemampuan berpikir). Piaget membagi tahapan perkembangan kognitif anak dalam 4 tahapan yaitu Sensorimotor (0-2 tahun), Praoperasional (2-7 tahun), Operasional Konkrit (7-11 tahun), dan Operasional Formal ( 11-15 tahun).
Sesuai dengan tahapan Piaget ini, maka anak usia taman kanak-kanak berada di masa praoperasional. Apakah masa praoperasional itu? Masa berpikir pra operasional dicirikan dengan kemampuan anak untuk mulai mengembangkan pemikiran logis. Anak-anak mulai mengembangkan konsep berpikir sebab akibat dalam bentuk yang sederhana. Pada masa itu kemampuan berpikir simbolis dan abstrak mulai berkembang. Anak mulai mengembangkan imajinasinya mengenai teror-teror, permainan simbolik, serta kepercayaan terhadap hal-hal magis/ajaib.
Dalam kemampuan berpikir simbolik, awalnya anak-anak mengembangkan kemampuan untuk menghadirkan gambaran mental mengenai objek yang tidak ada. Awalnya anak menyadari bila objek yang hilang dari pandangannya tidak benar-benar hilang, yang semakin berkembang menjadi kemampuan memunculkan objek tersebut kembali dalam pikirannya. Oleh karena itu anak sudah mulai mampu untuk menggambarkan objek-objek yang dikenalnya, misalnya dengan menyebutkan ciri-cirinya atau menggambarnya. Ia juga mulai mampu menirukan aktivitas-aktivitas yang pernah Ia lihat. Namun seringkali imajinasi anak ini bersebrangan dengan realitas, misalnya menggambar pohon dengan warna merah, langit yang kuning. Kepercayaannya terhadap hal-hal yang magis, menimbulkan sikap-sikap yang mengarah ke animisme (bahwa setiap benda bernyawa) sehingga anak-anak seusia ini sering tampak berbincang-bincang dengan mainannya atau membayangkan hewan dapat diajak berinteraksi seperti manusia.
Kembali kepada masalah bermain, anak-anak pada usia praoperasional akan mengembangkan permainan yang bersifat imajinatif pula. Pada tahapan-tahapan sebelumnya, anak cenderung lebih asyik mengekplorasi objek-objek di sekitarnya untuk melatih sensori-motoriknya, misalnya menendang bola, menjatuhkan balok, mencorat-coret, atau membunyikan benda-benda di sekitarnya. Pada perkembangannya, eksplorasi sensori motorik ini akan berkembang menjadi kegiatan yang bersifat imajinatif. Dalam fase ini, anak mulai tertarik kepada kegiatan yang bersifat konstruktif atau menciptakan sesuatu, misalnya menyusun balok atau menggambar. Selain itu, anak mulai bermain dengan memanipulasi objek yang tidak ada, misalnya ketika menendang bola, anak akan berbuat seakan-akan Ia mengarahkan bola ke arah gawang yang Ia buat dari dua buah batu. Anak juga mulai melakukan permainan pura-pura (pretend play). Pada permainan ini, anak akan mengulang hasil pengalamannya, misalnya meniru perilaku orang tua, meniru tokoh film kartun.
Fase ini adalah suatu titik tolak dari perkembangan kreativitasnya. Seringkali kita tidak memahami apa yang dimainkan oleh anak. Misalnya ketika Ia memporak-porandakan kamarnya karena Ia baru melihat film tentang Angin Topan dan berpura-pura menjadi korbannya. Seringkali karena ketidaktahuan kita maka permainan yang cenderung tidak dimengerti itu kita larang. Larangan tanpa memberikan kesempatan bagi anak untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya akan membatasi perkembangan kognitif dan juga kreativitasnya.
Berikut saya coba memberikan beberapa tips mendampingi aktivitas bermain anak di masa praoperasional :
1. Ajaklah anak untuk berkomunikasi mengenai apa yang dilakukannya. Misalnya tanyakan lebih dahulu apa yang dilakukannya, mengapa dan dari mana Ia mendapat ide untuk memainkannya. Jika apa yang dilakukannya mengganggu orang lain berikan penjelasan sebab akibat padanya. Untuk memahami sebab akibat seringkali Ia harus mendapat penjelasan yang konkrit. Penjelasan seperti “Tidak boleh seperti itu nanti mengganggu adik yang sedang tidur” akan cenderung susah dimengerti. Ingat juga bahwa anak-anak masih sangat egosentris. Ia masih kesulitan untuk memahami sudut pandang berpikir orang lain.
2. Ikutlah dalam permainan imajinatifnya. Bila memiliki waktu luang bergabunglah dengan anak melakukan permainan imajinatif. Permainan imajinatif ini biasanya akan kaya dengan percakapan sehingga dapat dijadikan sebagai kegaiatan merangsang kemampuan komunikasinya. Sembari bermain, ajaklah anak-anak bercakap-cakap mengenai permainan itu. Dengan bergabung bermain, anda akan dapat memahami dan menyelami kemampuan berpikirnya
3. Kegiatan imajinatif untuk belajar hal baru. Misalnya ketika kita ingin mengenalkan angka dan hitungan, ajak anak bermain Pasar-pasaran. Buatkan uang-uangan sederhana dan sambil lalu ajak anak menghitung belanjaannya. Suasana bermain seperti itulah yang akan membangkitkan minat anak.
4. Ajak bermain drama. Tentu saja, drama di sini tidak sekomplek drama yang biasa kita lihat. Anda dapat menciptakan jalan cerita sendiri atau bermain drama dari cerita yang dikenal anak-anak. Drama sederhana ini dapat ditampilkan ketika nenek kakek datang atau acara kumpul keluarga. (Saya jadi ingat, waktu kecil dulu kalau kumpul keluarga di rumah kakek kadang-kadang para cucu pamer kemampuan menyanyi atau menariknya
)



Keren ….ini tentang perkembagan psikologis anak.