Sudah sering bertemu dengan beberapa ibu (mantan wali murid saya) yang seperti kebakaran jenggot ketika putra putrinya mengikuti tes seleksi SD. Bayangkan, banyak SD-SD favorit menjadikan menu “baca-tulis-hitung” sebagai parameter seleksi siswanya. Beberapa bahkan merayu guru habis-habisan agar putra-putrinya didrill baca tulis. Saya sendiri lebih percaya bahwa anak akan mampu baca tulis dengan sendirinya jika Ia sudah siap. Stimulus dari lingkungan pastinya akan menumbuhkan kesiapan tersebut, namun bukan berarti memforsir anak untuk menghapalkan deretan huruf dan angka.
Saya sendiri dulu baru bisa membaca ketika kelas 1 SD. Saya tidak ingat prosesnya. Namun lulus TK jelas-jelas saya belum bisa membaca, walaupun sudah kenal alfabet. Berdasarkan pengalaman pribadi ini, “keterlambatan” ini tidak berdampak banyak di masa depan saya. Toh..saya tidak pernah mengalami kesulitan dalam mengikuti pendidikan saya. Kemampuan menulis saya juga berkembang dengan baik (paling tidak saya bisa menulis postingan di blog ini
). Saya juga menjadi penggemar buku dan novel. Dari blog seorang sahabat yang pernah mengikuti pendidikan pra sekolah di Jerman, di sana anak-anak TK tidak ditekankan untuk bisa membaca atau menulis. Tentu fakta berkata, tidak berarti orang-orang Jerman akhirnya kalah hebat dengan orang-orang Indonesia yang waktu kecilnya sudah mampu membaca buku-buku tebal (walaupun ada juga orang Indonesia yang lebih hebat dari orang-orang Jerman).
Memang tidak salah bila anak sudah bisa membaca sejak usia dini. Yang sering kurang tepat adalah cara untuk membuat anak bisa membaca. Dan yang lebih tepat lagi adalah Menstimulus anak agar berkembang minat membacanya. Percuma dong, sejak kecil bisa membaca namun akhirnya malas untuk membaca buku atau sumber informasi lainnya.
Saya menemukan situs yang memuat trik yang dapat diaplikasikan oleh orang tua untuk menstimulus minat membaca anak. Di sini akan saya petik beberapa bagian. Anda bisa klik disini bila ingin membaca versi lengkapnya.
SEBETULNYA, KAPAN KEMAMPUAN MEMBACA HARUS DIKUASAI OLEH SEORANG ANAK ? SEBERAPA PENTING PENGAJARAN MEMBACA DILAKUKAN SEDINI MUNGKIN ?
Menurut Judith Hudson, developmental psychologist yang mengasuh kolom “Expert Answers” di www.babycenter.com, anak biasanya belum benar-benar membaca sebelum usia 5 atau 6 tahun. Ia berpendapat, sebelum usia itu, pada kebanyakan anak belum terbentuk jaringan syaraf yang memungkinkan anak untuk menerjemahkan huruf dan menyatukannya menjadi sebuah kata. Memang ada beberapa anak yang mampu membaca lebih cepat dari usia itu, tetapi hal ini terjadi begitu saja, bukan karena mereka mempelajarinya lewat metode atau instruksi langsung.
Karena itu, membebani anak dengan suatu metode atau instruksi langsung yang diluar kemampuannya, bisa jadi membuat anak menjadi frustasi. Apalagi bila kemudian kita menambahkan label negatif pada anak tersebut, seperti bodoh (karena anak tidak juga mampu menguasai materi pelajaran membacanya) atau pemalas (karena anak enggan atau bahkan takut untuk mencoba lagi).
Lalu apakah anak yang “terlambat” belajar membaca, adalah anak yang tidak cerdas dan tidak akan menjadi sosok yang berhasil di kemudian hari ? Mengutip sebuah buku berjudul Right Brained Children in a Left Brained World tidak ada jaminan seseorang yang lebih dahulu bisa membaca akan lebih sukses di masa depan daripada mereka yang terlambat.
Banyak tokoh sukses yang justru terlambat membaca. Albert Einstein, George S. Patton, William Butler Yeats adalah contoh orang-orang yang terlambat membaca, tetapi toh menjadi tokoh terkemuka di masa dewasa mereka.
JADI APA SEHARUSNYA YANG LEBIH TEPAT UNTUK DILAKUKAN ?
Kunci persiapan membaca adalah melalui instruksi tak langsung. Salah satu caranya adalah mengenalkan anak dengan buku dan membuat mereka tertarik dengan ceritanya. Tugas Anda adalah mengenalkan buku sebagai sesuatu yang penting dan mengasyikkan. Cara terbaik untuk menunaikan tugas ini, adalah dengan membacakan cerita pada anak. Cara ini bisa dimulai sejak anak berusia 6 bulan, bayi biasanya menyenangi buku dengan gambar dan sedikit tulisan. Anak usia 1 – 2 tahun tertarik dengan pengulangan dan kata berirama. Anak usia 2 – 3 tahun mulai menyukai cerita dengan kalimat pendek dan sederhana. Usahakan Anda memegang buku dengan posisi yang memudahkan anak melihat dan menunjuk hal-hal yang menarik hatinya.
Buku alfabet dapat membantu anak prasekolah untuk mengenali huruf dan kebanyakan anak dapat mengenali namanya saat ia berumur 3 tahun. Anak dapat pula diajarkan untuk mengenali lambang dan logo yang mereka lihat disekitar mereka. Minta ia untuk menunjuk lambang atau merk eskrim favoritnya, ini adalah langkah penting dari persiapan membaca : ia akan mengerti bahwa kata tertentu mewakili suatu benda.
Berikut ini adalah rangkuman keterampilan yang harus dikuasai anak sebagai persiapan belajar membaca (dikutip dari Nakita) :
1. Keterampilan Mengenali Bunyi
Anak dapat membedakan bunyi lafal kata, misal ”dadah”, ”mama”, ”papa”, dan sebagainya. Kemampuan ini biasanya mulai muncul di usia bayi.2. Keterampilan Mengenali Benda
Orangtua bisa menstimulasi dengan mengenalkan benda-benda yang ada di sekitar anak. Umumnya dimulai di usia bayi.
3. Keterampilan Mengenal Bentuk
Di usia batita anak sudah dapat dikenalkan pada konsep bentuk yang nantinya diperlukan dalam pengenalan huruf, seperti, bentuk bulat, kotak, lurus, segitiga, oval, dan sebagainya.
4. Keterampilan Mengenal Simbol / Lambang
Setelah anak mengenal konsep bentuk, kenalkanlah berbagai simbol, misal: lingkaran yang dikelilingi garis tegak lurus sebagai matahari, tokoh dongeng favorit, dsb.
5. Keterampilan Mengasosiasi
Anak mampu mengenal bentuk huruf / tulisan dan bunyi.
6. Keterampilan Mengenal Huruf dan Suku Kata
Ketika anak mampu mengenal huruf dan suku kata untuk menggabungkannya menjadi kata, maka dia dapat dikatakan siap membaca
Jadi, pada anak usia dini yang utama bukanlah mengajarinya bisa membaca, tapi bagaimana cara kita untuk menumbuhkan minat baca buah hati kita. Untuk dapat mencintai kegiatan membaca, maka anak perlu memahami apa yang dibacanya. Jadi, membaca bukan hanya sekedar mampu melafalkan tulisan saja.
Kegiatan membaca buku merupakan kegiatan kognitif yang mencakup proses penyerapan pengetahuan, pemahaman, analisis, sintesis, dan evaluasi. Dengan terbiasa melakukan kegiatan itu, pengetahuan, imajinasi, dan krativitas anak terbuka lebar. Tidak berlebihan jika buku disebut sebagai jendela dunia sekaligus investasi masa depan. Anak boleh membaca buku apa saja selama isinya membawa nilai – nilai kebaikan. Jangan lupa, sifat pembelajar adalah salah satu kunci sukses di masa depan.
BAGAIMANA MENUMBUHKAN MINAT BACA PADA ANAK ?
-
· Jadilah role model atau tokoh panutan bagi anak
Bagaimana Anda dapat mengharapkan anak menjadi pencinta buku, kalau ia melihat orangtuanya hampir tidak pernah menyentuh buku ? Ingatlah bahwa anak adalah peniru ulung. Ia dengan serta merta akan meniru aktivitas apapun yang Anda lakukan dengan penuh semangat dan kecintaan.
· Tumbuhkan atmosfir cinta buku di rumah
Anda dapat membuat perpustakaan pribadi di rumah. Rumah Anda tidak besar ? Jangan khawatir, cukup relakan satu pojok yang nyaman untuk meletakkan satu rak penuh buku. Atau sediakan rak kecil khusus bagi si kecil untuk menyimpan koleksi pribadinya. Jadikan acara ke toko buku sebagai salah satu agenda akhir minggu keluarga. Atau Anda bisa membacakan cerita sebagai salah satu ritual sebelum tidur si kecil.
· Be Creative !
Saat Anda membacakan cerita untuk anak, jangan malu dan ragu untuk bertingkah seru dan konyol sekalipun. Hidupkanlah cerita yang Anda bacakan. Kalau perlu, berdandanlah dengan kostum buatan sendiri. Si kecil dijamin akan menyukai aktivitas ini.
· Jangan memaksakan kehendak
Bisa jadi, seseru apapun aktivititas yang Anda rancang untuk kegiatan membaca, ternyata si kecil lebih tertarik untuk bermain dengan koleksi mainannya ketimbang melirik buku yang baru Anda belikan untuknya. Jangan paksa dia. Berikan ia kebebasan untuk memilih. Atau biarkan ia memilih buku yang sesuai dengan keinginannya. Walaupun menurut Anda cerita singa yang lepas dari Kebun Binatang jauh lebih menarik dari cerita ikan yang berenang di sungai, bisa jadi si kecil memiliki sudut pandang dan imajinasi yang berbeda dengan Anda.
· Istimewakan posisi buku di mata anak
Katakan kalimat seperti, ”Aduh, rajinnya anak Mama…” bila Anda melihat si kecil tengah asyik memegang buku (Anda kan tidak akan mengatakan hal yang sama bila mendapati si kecil asyik dengan mainannya, misalnya). Atau, jadikan buku sebagai hadiah, reward, atau permintaan kategori istimewa. Seperti dikatakan Shahnaz Haque dalam wawancaranya dengan Inspired Kids,” Mainan belum tentu dikabulkan, tetapi buku selalu boleh.” Dengan demikian, ia menempatkan buku pada posisi yang istimewa.
· Ajak anak untuk menemukan ”dunia lain” melalui buku
Bacakan buku tentang tempat-tempat asyik yang belum pernah dikunjungi anak. Atau buku tentang benda atau binatang yang hanya bisa dilihat di buku. Katakan, ”Hm… untung kita baca buku ini ya… Kita bisa tahu ada tempat/benda/binatang yang seasyik/seunik/selucu ini……”
Menumbuhkan minat baca pada anak, ternyata tidak hanya berguna untuk menyiapkan anak belajar membaca. Tetapi juga berguna untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku dan ilmu.
Anak yang cinta buku, cinta ilmu, diharapkan akan memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas untuk menghadapi tantangan hidupnya di dunia yang semakin keras. Bukankah ini jauh lebih berguna daripada ”sekedar” membentuk anak cerdas ?



Anak TK sekarang sudah diajari Baca Tulis …?
Wah ini polemik nih …
Banyak orang tua membanggakan TK anaknya … Kalo di TK “X” bagus … anak-anak nya sudah diajari Baca Tulis, Pake Belajar Bahasa Inggris lagi … dst.dst.dst
Aduh ….
Yang jelas menurut saya … TK adalah Taman Kanak Kanak …
“Tempat Bermain … dan Berteman Banyak …”
“Itulah taman kami … taman kanak-kanak”
Dan saya masih tetap percaya itu …
(eh begitu kali ya …)
saya juga masih percaya itu kok…tossss…!!!
TULISAN YANG BAIK…KEEP MOVING
hai non

bagaimana kabarmu? itu buah hatimu kah? selamat ya, semoga ia baik sepertimu dan tegas seperti ayahnya
o iya.. aku lupa mau menyampaikan sesuatu kemarin pas nikahannya abenk, perihal komputermu.
maaf beberapa komponennya dipinjam temen2 asrama, dan hingga saat ini belum dikembalikan
bagaimana ya caranya mengembalikannya padamu?
woww..itu memang buah hatiku tapi bukan buah cintaku ma suami…:P. dia salah satu sahabat hebatku…she impress me in many things : independence, brave, and pretty indeed. saya salah satu yang beruntung pernah mengenalnya (dan teman-temannya juga)…titip compie ya, mas…thx
pengalamanku mungkin yang teraneh. sebagai pencinta buku hampir tiap hari aku membaca buku, baik didepan anakku lebih-lebih di belakang mereka. tapi anak-anakku tampaknya sangat membenci buku meskipun karena pressure dari sekolah terpaksa mereka dapat membaca sejak 5 tahun. kadang aku berpikir sesungguhnya ,mereka ini memiliki dendam pada benda yang bernama buku. pertama karena buku mama kurang perhatian, karena buku aku harus belajar membaca padahal aku belum puas bermain entahlah………..
barangkali ada yang punya pendapat tentang masalahku ini?
tulisan yang bagus, mbak…
aku sendiri punya pengalaman, anakku sekarang umurnya 3 tahun 10 bulan, udah bisa baca. aku sih gak pernah maksa dia buat belajar baca, tapi dia emang suka sendiri…
semoga kelak minat bacanya bisa berkembang juga seperti yang mbak tulis.
btw, karena sekarang aku tinggal di Papua, yang orang bilang mutu pendidikannya gak bagus, aku berpikir selain di sekolah, aku juga pingin ngedidik anakku via homeschooling, ada info tentang homeschooling gak, mbak?
thx.