
Buat kita orang dewasa bermain adalah lawan kata dari bekerja. Beberapa dari kita mungkin sering mencuri waktu di padatnya jadwal kerja dengan main computer game. Atau susah payah menyisipkan kegiatan bermain tenis di padatnya jadwal kerja. Tapi tentu ini berbeda dengan anak-anak. Bagi anak-anak bermain adalah pekerjaannya. Di tahap perkembangan nantinya mereka tidak akan pernah sesibuk itu bermain.
Bagi orang dewasa, bermain memang benar-benar berlawanan dengan aktivitas bekerja. Bekerja identik dengan aktivitas yang merupakan keharusan. Memang banyak orang yang menyukai pekerjaannya (beruntunglah mereka..:P), namun lebih banyak lagi yang mengeluhkan rutinitas kerja. Bermain identik dengan kegiatan yang menyenangkan, mengendorkan urat syaraf, menghadirkan antusiasme, serta rekreatif. Tentu saja, aktivitas bermain anak-anak memiliki karakteristik yang khas (walaupun tidak sepeuhnya berbeda dengan bermain orang dewasa).
Di bidang psikologi, para ahlinya memberikan perhatian khusus pada kegiatan bermain anak. Bukan saja karena anak-anak identik dengan masa bermain. Di sisi lain, bermain memiliki banyak peranan bagi perkembangan anak-anak. Dalam perkembangannya, bermain juga dimanfaatkan oleh para terapis untuk memberikan terapi atau penanganan bagi anak-anak dengan gangguan atau masalah khusus. Biasanya terapi itu lebih dikenal dengan sebutan play therapy. Bahkan di Indonesia juga memiliki psikolog yang ahli di bidang terapi bermain yaitu Mayke Tedjasaputra – psikolog dari Universitas Indonesia.
Sebagai salah satu aktivitas vital dalam tahapan perkembangan anak-anak, aktivitas bermain dapat dijadikan sebagai tolak ukur perkembangan anak, baik secara kognitif maupun sosialemosional-nya. Kali ini secara khusus saya akan membahas perkembangan perilaku bermain anak berdasarkan perkembangan kemampuan sosialnya.
Adapun ahli yang mempopulerkan teori perilaku bermain sosial adalah Mildred Parten. Jenis bermain menurut Parten atau yang lebih dikenal sebagai Parten’s Classic Study of Play adalah :
1. Unoccupied play dimana anak terlihat tidak bermain seperti yang umumnya dipahami sebagai kegiatan bermain. Anak mungkin hanya berdiri di suatu sudut, melihat ke sekeliling ruangan, atau melakukan beberapa gerakan tanpa tujuan tertentu. Jenis bermain semacam ini hanya dilakukan oleh bayi. Jenis bermain ini belum menunjukkan minat anak pada aktivitas atau objek lainnya. Biasanya hanya dilakukan oleh bayi.
2. Solitary play dimana anak bermain sendiri dan tidak berhubungan dengan permainan teman-temannya. Anak-anak sepertinya asyik dengan aktivitasnya sendiri dan tidak tertarik tentang hal lain yang terjadi. Pada aktivitas ini anak menikmati aktivitasnya. Tentu saja, bermain di sini tidak selalu seperti aktivitas bermain yang dipahami oleh orang dewasa. Dimana anak merasa antusias dan senang melakukan aktivitas itu, itulah permainan anak. Mungkin anak hanya sekedar mengetuk-ngetukkan sendok ke piring, atau menggoyang-goyangkan tangannya. Pada tipe bermain ini, anak belum menunjukkan antusiasmenya kepada lingkungan sekitar, khususnya orang lain. Anak-anak usia bayi sampai 2 tahun sering melakukan permainan semacam ini dan cenderung menurun di masa-masa selanjutnya.
3. Onlooker play dimana anak melihat atau memperhatikan anak lain yang sedang bermain. Anak-anak mungkin berbicara atau bertanya kepada temannya yang bermain namun tidak terlibat dalam permainan. Anak-anak mulai memperhatikan ketertarikan terhadap orang lain. Di sinilah anak mulai mengembangkan kemampuannya untuk memahami bahwa dirinya merupakan bagian dari lingkungan. Anak sudah mulai tertarik dengan aktivits lain namun belum memutuskan untuk bergabung. Dalam tahapan ini, biasanya anak cenderung mempertimbangkan apakah Ia akan bergabung atau tidak.
4. Parrarel play dimana anak bermain terpisah dengan teman-temannya namun menggunakan mainan yang sama dengan temannya atau melakukan perilaku yang sama dengan temannya. Pada permainan ini, anak sudah berada dalam suatu kelompok, biasanya melakukan aktivitas yang serupa, bahkan mulai berbagi properti. Memang masing-masing anak masih bekerja sendiri sehingga belum ada satu tujuan yang ingin dicapai bersama. Tipe-tipe bermain seperti ini biasanya mulai dimainkan anak-anak di masa awal sekolah. Biasanya mereka mulai tertarik satu sama lain, namun belum merasa nyaman untuk bermain bersama.
5. Associative play dimana anak terlibat dalam interaksi sosial dengan sedikit atau tanpa pengaturan. Dalam tipe permainan ini anak sudah mulai melakukan interaksi yang intens dan bekerja sama. Sudah ada kesamaan tujuan yang ingin dicapai bersama namun biasanya belum ada pengaturan. Permainan ini akan mewarnai sebagian besar masa anak-anak prasekolah. Misalnya melakukan anak melakukan permainan kejar-kejaran, namun seringkali tidak tampak jelas siapa yang mengejar siapa.
6. Cooperative play meliputi interaksi sosial dalam kelompok dimana dapat ditemui identitas kelompok dan aktivitas yang teratur. Permainan ini banyak dimainkan oleh anak-anak pada masa sekolah dasar, namun dalam bentuk sederhana sudah dapat dimainkan oleh anak-anak taman kanak-kanak. Tipe permainan ini yang mendorong timbulnya kompetisi dan kerjasama anak. Tipe permainan ini juga mendominasi jenis-jenis permainan yang dilakukan oleh orang dewasa.
Gagasan Parten mengenai perilaku bermain sosial ini seringkali dijadikan tolak ukur dalam menilai kemampuan sosial anak. Nah, anda sendiri bisa menilai perilaku bermain apa yang biasanya dilakukan anak anda. Jika anak anda sudah berusia 5 tahun, namun cenderung lebih sering melakukan solitary play, tentu anda bisa was-was. Untuk baiknya bila memang sampai usia tertentu, perilaku bermain sosialnya tidak berkembang, anda dapat melakukan konsultasi kepada psikolog anak. Gagasan Parten ini juga dapat digunakan untuk membantu anda untuk menstimulus perkembangan kemampuan sosial anak. Misalnya anak anda sudah sangat tertarik dengan aktivitas-aktivitas bermain asosiatif, maka tidak salah kalau anda mulai kenalkan dengan permainan-permainan kooperatif yang sesuai dengan kemampuan lainnya.
Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, aktivitas bermain ini juga dapat ditilik dari sudut pandang perkembangan kognitifnya. Hmmm…sepertinya saya juga perlu membuat postingan khusus untuk itu. InsyaAllah secepatnya…Semoga bermanfaat…



itulah, memang sebenarnya. lewat bermain itu kita bisa berbuat apa saja, buat anak usia TK terutama. tidak perlu panik dengan membaca, menulis, berhitung, yg formal itu. pasti anak Indonesia lebih pintar jika caranya begini, bukan hanya sosialnya, tp juga kognitif, afektif, psikomotor juga.
siipp…saya yakin mbak dewi mumpuni dalam hal ini
anyway saya ada beberapa ide postingan untuk tema bermain ini, khususnya tentang bermain dalam tinjauan kognitif dan pretend play. Awalnya tergelitik karena banyak orang tua yang suka neriaki anak-anaknya….”WOOOIII…Ayo belajar…kerjanya kok main terus…”
nit ne alamat e mailku tulisanmu keren banget se .. niet aku hampir2 ga nyampe bacanya ( biz skarang da agak dung… dung.. dung hehehe..)tapi keren mang bener anak juga perlu bermain niet.
halo ibu…hahahaha…menyanjung nih, jadi ge-er. Okey dah, tar aku PM aja yah…salam buat babang dan eza yah…dari tante jauhnya
bagus tulisannya.. aku suka.
play is a business for a child, khekekheekee..
salam kenal mb niet, tulisannya menambah pengetahuanku..terutama tentang perkembangan sosial anak..oiya punya referensi altruisme,prudence n theory of mind ga? aku lg ada tugas nich..mksih ya mb niet:)..:)