For the first time nih….ada temen yang tertarik untuk publish tulisannya lewat blog ku…
katanya sih mau sekalian numpang beken… ;P Okay, check it out…
Bagaimana Remaja Mencintai Diri ?
Rindy sering melamun dan mengeluh tentang keadaan dirinya, beberapa pertanyaan dengan nada keluhan kerap membayangi pikirannya, “kenapa ya teman-teman mendekati saya jika merasa sulit dalam pelajaran tertentu,klo yang namanya hanging out bareng saya sering terkucilkan” apa saya tidak pandai bergaul ?; jelekkah penampilan saya ?; burukkah sifat dan perilaku saya ?
Sedikit keluhan di atas merupakan beberapa permasalahan yang sering dialami oleh remaja, mungkinkah kita salah satunya? Mungkin saja tidak. Remaja merupakan masa transisi seseorang dari masa anak menuju tahap kedewasaan, jika kita seorang yang belum remaja jangan takut untuk menjadi remaja. Sekarang coba deh kita pikir, suka atau tidak masa remaja akan dilalui (ga akan mungkin bisa menghindar), sinetron-sinetron dan film-film dengan tema remajapun semakin menjamur, kalau boleh diartikan masa remaja adalah masa yang menyenangkan, masa dimana kita dapat mencoba segala sesuatu untuk mengetahui apakah sesuatu itu baik atau buruk akibatnya bagi diri sendiri. “dapat mencoba segala sesuatu” bukan berarti kita seenaknya saja merasakan apa yang ada di depan mata, terkadang ini sering disalah artikan oleh remaja kebanyakan.
Kita jangan melihat terlalu jauh deh akibat dari “merasakan sesuatu seenaknya sendiri”, lihatlah lingkungan pergaulan sekeliling kita, teman sebaya bahkan teman bermain, udah banyak banget yang kecanduan ama yang namanya “rokok”, jadi “smoker” dalam usia yang begitu muda tentunya bukan perilaku yang “mencintai diri sendiri”. Ini baru salah satu dari beberapa perilaku remaja yang kurang mencintai dirinya sendiri, yang juga sering kita temukan bahkan ada yang mengalami sendiri teman-teman remaja “udah berani yang namanya “lip kissing”, “tongue kissing” atau yang paling parah lagi“wet kissing”. Aje Gileeeeee… usia remaja bukan untuk melakukan hubungan seksual meskipun kata sebagian remaja itu “Cuma oral bro!!!” tapi hanya untuk mengenal dan memahami sehingga tahu sampai dimana batas-batasnya, jangan mentang-mentang ada pepatah yang mengatakan “tak kenal, maka tak sayang” maka segala sesuatu ingin disayang lebih dari sekedar mengenal.
Mencintai diri sendiri bukanlah hal yang mudah, namun bukan berarti pula hal yang sulit tergantung sampai dimana kita ingin melaksanakan hal-hal positif yang sebenarnya sudah kita ketahui. Kembalilah untuk melihat diri dan teman sekitar, pada kenyataannya kita telah mengetahui bahwa suatu perbuatan itu salah, tetap juga perbuatan itu ingin “dicicipi”, ikut kata orang bijak yang telah banyak diplencengkan makna sebenarnya ke dalam perbuatan hina, “mencoba sesuatu hal dalam kehidupan sebagai awal meraih kesuksesan”.
“Nongkrong” yang kembar identik dengan “konkow-konkow” (bahasa gaulnye), merupakan suatu “keharusan” yang tidak boleh ditinggalkan, kita mungkin bertanya “kok bisa menjadi wajib sih ?” hal inilah yang mestinya dijelaskan secara lebih mengena dengan berdasarkan pendapat manusia pada adalah makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup sendiri, pemenuhan kebutuhan hidupnya bergantung dari orang lain. Dalam budaya “Nongkrong” terdapat proses untuk belajar mencintai diri sendiri, yang dicintai disini tentunya berusaha untuk kita jaga dan berikan asupan gizi agar kesehatan”nya” tetap terjaga, “nya” apa itu ? dialah yang disebut “mental/psikis”. Mental yang sehat berujung pada perilaku yang sehat, proses berpikir yang lebih positif dan pengendalian diri termasuk didalamnya pengendalian emosi dengan lebih terarah. Manfaat “Nongkrong” bolehlah dijabarkan seperti berikut : 1. Melepaskan unek-unek yang selama ini menjadi beban pikiran (share process), 2. Mengatasi kejenuhan dari rutunitas kehidupan, baik bekerja, belajar, dsb.(mood refresh), 3. Menjalin keakraban, persahabatan (social interaction), 4. Belajar membuka diri (self-disclosure) dan 5. Menumbuhkan rasa percaya diri (self-confident). Itu baru beberapa diantaranya manfaat positif dari aktivitas “Nongkrong”, manfaat tersebut akan didapat jika dalam prosesnya kita mampu untuk menggalinya secara optimal, maksudnya dalam setiap aktivitas “Nongkrong” bukan untuk melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi diri sendiri namun lebih kepada hal-hal yang menunjang perkembangan individu menjadi lebih baik. “Nongkrong” sering, aktivitas yang dilakukan hanya seputar maen game, ngobrol-ngobrol ga karuan yang endingnya satu sama lain bermusuhan itupun dilakukan sambil “nyambi” jadi “celengan asap”. Inget bro, yang dilakuin biar tongkrongan jadi nambah bikin kreatif, banyak banget!!!
Gak fair deh kalo saya tidak menulis tentang penulisnya…namanya Ridho – bujangan sarjana psi banget (as his request…) yang jomblo dan bercita-cita membangun tanah kelahirannya – bumi mataram – Sekarang beliau sedang study magister psikologi di universitas airalngga, you can write him an e- mail to id_assault@yahoo.co.id. O iya…ini fotonya di bawah.. (bener2 numpang beken deh…)



