
Membaca adalah membuka kunci gudang ilmu dan wawasan. Aktivitas belajar tidaklah pernah lepas dari membaca dan melalui buku seseorang dapat berkelana ke penuru dunia. Dalam kepercayaan saya, membaca adalah hal yang sangat penting, sehingga perintah membaca adalah perintah pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad. Saya sendiri menerjemahkan perintah membaca tersebut tidaklah sebatas membaca ayat-ayat yang tertulis di kitab saja, namun apa pun yang dapat kita baca.
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengikuti syuting pertama talkshow Bincang Pendidikan di JTV yang mengangkat tema Minat Baca. Dari acara tersebut saya baru tahu ternyata minat baca masyarakat Indonesia rendah sekali, berada jauh di bawah negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Philiphina. Indonesia berada di peringkat yang sama dengan Malta, Bahrain, dan Suriname. Hal ini juga berhubungan dengan pendidikan Indonesia yang kurang mampu membangun kecintaan masyarakatnya untuk membaca.
Dalam prakteknya, hal ini umum kita lihat. Masyarakat kita tampaknya lebih senang mengisi waktu luangnya dengan menonton TV daripada membaca. Hal ini lebih terlihat lagi pada kelompok ibu dan pembantu rumah tangga. (Apakah ini juga berhubungan dengan angka buta huruf wanita lebih besar daripada laki-laki?) Saya tidak berpendapat menonton TV buruk namun melihat bagaimana kualitas tayangan televisi kita akhir-akhir ini, saya tidak yakin banyak kontribusi positif didapatkan dari menghabiskan waktu luang dengan memelototi televisi. Imbasnya anak-anak yang banyak menghabiskan waktu dengan mereka juga akan menikmati aktivitas serupa. Bukankah orang dewasa yang dekat dan lekat merupakan model bagi anak? Kalau sudah seperti ini anak tidak dapat didorong untuk lebih suka membaca daripada menikmati tayangan TV (yang kebanyakan tidak sesuai dengan usianya).
Memang untuk menimbulkan dan mengembangkan minat baca pada generasi penerus kita tidak lepas dari model yang diberikan orang dewasa di sekitarnya. Andaikan saja ibu-ibu rumah tangga mengisi waktu luang dengan membaca (apalagi membacakan buku untuk anak-anaknya) lebih mudah untuk menimbulkan minat baca anak. Anda tidak perlu heran kalau tiba-tiba anak anda menirukan perilaku anda membaca buku (walaupun sebenarnya dia belum bisa membaca kata-kata dan memegang bukunya secara terbalik) melainkan berarti ada harapan untuk menumbuhkan minat baca anak.
Dalam hal ini, bukan saja ibu-ibu yang diharapkan untuk menunjukkan kegemaran membacanya, namun juga bagi kaum bapak-bapak. Ibu saya sendiri tidak terlalu gemar membaca tapi Bapak saya – kalau tidak bisa dibilang keranjingan – sebut saja gemar membaca. Setiap pagi beliau selalu sarapan “koran”, senang mengajak kami ke toko buku, dan punya koleksi Buku Pintar karya Iwan Gayo (padahal profesinya tidak berhubungan dengan Buku Pintar tersebut).
Berhubung banyak anak-anak kita sekarang ini yang diasuh oleh baby sitter atau pembantu rumah tangga, hal ini juga perlu diperhatikan. Merupakan hal yang bijaksana kalau kita juga membangkitkan minat membaca baby sitter dan pembantu rumah tangga kita. Paling tidak lebih baik baby sitter tersebut menunggu anak-anak anda yang tidur dengan membaca daripada dengan nonton sinetron Indonesia. Anda dapat menyediakan bacaan yang bermutu dan menarik minat mereka.
Hal ini coba saya praktekkan di rumah. Kebetulan salah seorang karyawan saya yang juga membantu urusan rumah tangga tinggal di rumah dan TV addict banget. Berhubung saya dan hubby tidak terlalu hobby nonton TV, dia malah jadi penguasa channel TV. Waktu ada iklan film Ayat-ayat Cinta, saya bercerita kalau film tersebut dibuat berdasarkan novel dan saya punya novelnya. Karena Ia menunjukkan wajah antusias sekali dengan film itu, iseng-iseng saya tawari mau tidak membaca novelnya. Ia mengiyakan namun setelah itu saya ragu apakah Ia mau menyelesaikan novel itu, maklum saya jaaaaaaaaaaarrrraaaang sekali melihat dia membaca. Tidak disangka Ia keranjingan novel itu (mungkin juga karena saya juga hobby membaca buku atau novel) bahkan beberapa hari ini Ia tidak belingsatan walau tidak melihat sinetron favoritnya. Saya sih lebih senang Ia mengimajinasikan alam Mesir daripada menonton sinetron yang isinya fitnah-memfitnah (siapa tahu membangkitkan minatnya untuk beljar, maklum setelah lulus SMP Ia enggan meneruskan sekolah walaupun sudah banyak yang menawari akan membiayai).
Menurut saya, jika kita ingin memajukan bangsa kita (yang dapat dicapai dengan pendidikan bangsa yang oke) yang (menurut saya) berkorelasi dengan tingginya minat baca bangsanya maka gerakan kecil dapat kita mulai dari diri kita. Paling tidak kegemaran membaca orang-orang dewasa akan menjadi model bagi berkembangnya minat membaca pada anak-anak Indonesia.



Yaah..memang begitulah, MissU.
Anyway, minat lebih sering tidak bisa dibiarkan tumbuh mandiri kalo memang kita menghendaki tumbuh berkembangnya minat itu, baik minat kita sendiri ataupun minat orang-orang di sekitar kita. Katakanlah anak-anak, pada kondisi umum orang tua sangat berperan dalam hal menumbuhkembangkan minat baca anak-anak, susuai tulisan tadi dimulai dari diri sendiri (*kalo boleh saya kembangkan jadi dimulai dari yang terdekat).
Akan tetapi, kalo memang maksud tulisan MissU merupakan ajakan bagi orang dewasa supaya memberikan pengaruh positif dalam hal minat baca anak-anak, benturannya adalah ego.
Maksudnya, katakanlah seorang missU. Akan lebih mempengaruhi/ menumbuhkan minat/ mengajak membaca 10 anak yang kecil minat bacanya daripada 2 orang dewasa yang juga kecil minatnya. Dan fenomena saling mempengaruhi akan lebih besar terjadi pada anak-anak karena “semangat” ikut2an temennya lebih besar.
Kalo memang targetnya anak2 Indonesia, untuk seorang missU, untuk menumbuhkan minat baca 1000 anak, akan lebih efektif lewat 10 anak pertama tanpa minat baca daripada lewat 2 orang dewasa tanpa minat baca juga.
Eh…maap missU, tadi belum kulonuwun.
…kulonuwuuun…
makasih, missU.
Masukan yang hebat… Memang ini ajakan buat orang dewasa, berhubung pembaca blog ini orang2 dewasa. Pemikiran saya, kebanyakan pembaca blog ini adalah orang2 dewasa yang di lingkungannya ada anak2. Memang masih perlu suatu cara mengajak anak2 untuk gemar membaca yang tentu saja tidak cukup dengan kata “AYO BACA BIAR JADI ORANG HEBAT”.
Matur nuwun sampun mampir…boleh kok kulo nuwun lagi…lain waktu saya yang gantian mampir…
aktivitas membaca di negeri ini memiliki sejarah yang aneh, mbak. dari budaya lisan (iliterate) langsung ke budaya postliterate (televisi). sementara budaya literate (membaca) justru langsung dilompati. aneh juga, mengapa negeri ini justru lebih akrab dg dunia audio-visual yang lahir belakangan ketimbang membaca, yak?
Betul mbak, saya perhatikan minat baca murid-murid saya pun terbilang rendah. Saat ini saya sedang ‘memaksa’ mereka untuk mulai membaca
Saya terlebih dahulu mengorbankan diri untuk membaca novel atau buku nya dahulu sebelum melihat film nya.
Sekalian belajar jadi kritikus film.
Betul, saya setuju sekali….
Menurut saya peran orang tua (terutama ibu) sangat penting dalam meningkatkan minat baca anak. Saat saya berusia 1 tahun, mama saya selalu menyempatkan membacakan buku-buku cerita anak walaupun beliau seorang wanita karir yang sangat sibuk. Saya mempunyai banyak sekali koleksi buku dan hobi “berpesiar” ke toko buku sejak berumur 2 tahun. Saat saya menginjak usia 3 tahun, saya sudah hafal seluruh buku yang saya miliki dan saat berusia 5 tahun, saya sudah lancar membaca buku-buku karya Enid Blyton yang lumayan tebal. Sampai saya dewasa sekarangpun saya sangat gemar membaca, semua ini tentunya berkat dorongan mama saya tercinta
@ Pak Sawali : Nah, itu hebatnya bangsa kita, sukanya lompat-lompat
@ Bu Enggar : Atau lebih tepatnya membangkitkan minat membacanya, bu…Saya ada postingan baru yang triknya cukup siiippp…
@ Pak Agus : tapi jangan lantas kecewa, pak. Dari pengalaman, saya selalu kecewa dengan film yang diambil dari novel best seller – kayak Harry Potter (saya cuma lihat yang ke 1 – 2. Enough deh…)
@ Bu Windi : Salut buat mama Bu Windi. Eh..saya jg ngefans sama Enid Blyton. Saya ngumpulin buku sakunya, tinggal yang seri 4 sama 6. Selain itu saya juga masih ngefans sama Road Dahl.