Weekend kali ini saya nikmati bersama hubby dengan bersantai menikmati Starbucks Coffe. Saat ini siapa sih yang tidak kenal dengan brand satu ini. Di sini saya sih tidak ingin menceritakan hal-hal romantis di kencan weekend saya (ntar pada ngiri…) melainkan tentang kekaguman saya pada frontliner kafe tersebut.

Kebetulan kami mendatangi Starbuck yang berlokasi di salah satu mal yang belum soft opening. Namun daya tariknya cukup besar karena hampir seluruh seat terisi, bahkan kami yang cabut jam setengah 12 malam masih melihat beberapa tamu asyik ngobrol di beberapa sudut. Kalau saya hitung hanya ada 3 frontliner di kafe tersebut dan ternyata mereka multi tasking, artinya setiap frontliner mampu menjadi kasir, bartender, atau cleaner. Menurut hubby, Starbuck menjalankan konsep “mitra” untuk karyawan di bagian ini, artinya tidak ada posisi super di antara satu sama lain. Saya jadi teringat konsep organisasi kapal karet pada postingan saya beberapa waktu yang lalu. Mungkin ini gambaran nyata dari fleksibilitas karyawan dalam suatu organisasi. Efeknya, organisasi maupun karyawan tidak akan mengalami kesulitan bila saja suatu waktu salah satu karyawan tidak mampu melaksanakan tugas, misalnya tidak masuk karena sakit. Karyawan yang lain dengan mudah menghandle posisi tersebut. Selain itu organisasi juga diuntungkan karena tidak ada posisi “one-man stand” sehingga bila saja karyawan resign maka keberlangsungannya masih dapat berjalan.
Saya jadi teringat dengan tugas guru jaman saya dulu (khususnya guru SD). Persamaan yang paling menonjol antara posisi guru dan karyawan Starbuck yang saya amati tersebut adalah keberadaannya sebagai frontliner atau garda depan kalau mau mengikuti istilah gerai DAGADU Jogja. Guru merupakan ujung tombak institusi pendidikan yang bersentuhan secara langsung dengan pengguna jasa pendidikan yaitu murid dan guru. Guru-guru SD saya dulu benar-benar multitasking, karena mampu mengampu seluruh mata pelajaran (kecuali agama dan olahraga yang memiliki guru bidang study tersendiri) yang sepertinya punya peran sama dengan bartender yang menyiapkan dan menyajikan minuman; menerima pembayaran SPP dan mengadministrasikannya yang sepertinya punya peran sama dengan kasir kafe; dan memelihara kebersihan kelas dan anak-anak muridnya dimana sepertinya punya peran yang sama dengan cleaner kafe (guru saya membersihkan sendiri kelasnya sehabis pelajaran, membantu anak-anak yang kadang ngompol dan sebagainya).
Mungkin guru-guru sekarang sudah tidak memiliki tugas sekomplek itu, apalagi di sekolah-sekolah dengan sumber daya manusia memadai. Sudah ada petugas sendiri yang menangani pembayaran uang sekolah, petugas sendiri yang membersihkan sekolah, dan nanny yang menangani kasus-kasus khusus pada anak. Nah…karena itu seharusnya guru masa kini dapat bekerja lebih baik dibandingkan guru-guru di masa lalu.


