Musim hujan seperti ini mengingatkan saya pada kebiasaan beberapa murid saya dulu. Jika mendung sudah menggantung dan kami memiliki rencana melakukan aktivitas outdoor seperti jalan-jalan, berenang, atau sekedar bermain bersama, mereka biasanya langsung menteriakkan syair (yang menurut mereka merupakan) mantra pengusir hujan.

Rain…rain go away
Come again another day
Little children want to play
Mungkin ini adalah satu-satunya syair yang mereka hapal dengan baik. Pertama, saya memang hanya bisa mengenalkan satu syair tersebut pada mereka. Kedua, tidak ada pelajaran khusus menghapal syair. Seingat saya, ketika dulu TK saya sering dikenalkan lagu dan syair yang kemudian harus kami hapal untuk dilafalkan bersama atau sendirian di kelas. Hal ini berbeda dengan apa yang saya lakukan. Saya tidak pernah mengajarkan secara khusus sebuah lagu atau syair. Kalau saja saya atau anak-anak memiliki lagu baru, biasanya kami kenalkan di awal kegiatan kelas. Kalau mereka suka, kita akan menyanyikannya berulang-ulang, bukan hanya saat di kelas, namun saat bermain atau saat senggang. Saya sendiri memiliki kebiasaan bersenandung saat melakukan aktivitas ringan seperti beres-beres, menunggu kedatangan anak-anak, atau menemani anak menggambar. Saya tidak pernah melakukan tes atau evaluasi apakah mereka sudah hapal atau tidak lagu yang saya kenalkan. Hanya saja seingat saya mereka mampu dengan baik menyanyikan lagu-lagu yang kami kenalkan.
Kembali mengenai syair, suatu kali saya berpikir pasti menyenangkan mengenalkan syair pada anak-anak. Dibandingkan menghapal syair-syair yang ada, saya mengajak anak-anak membuat syair. Awalnya saya perkenalkan bentuk syair, dimana syair biasanya memiliki judul. Saya memberikan mereka contoh syair yang saya lontarkan secara spontan (saya sendiri sudah lupa syair apa yang saya contohkan pada mereka…:P). Untuk menggambarkan beda syair dengan cerita yang mereka biasa sampaikan sehari-hari, saya katakan bahwa dalam syair biasanya kita tidak menggunakan kata sambung seperti “lalu” dan “terus”. Ternyata kegiatan tersebut benar-benar menyenangkan dan tema syair yang mereka sampaikan pun cukup unik. Sayangnya, waktu itu mereka belum mampu untuk menulis dengan mandiri, sehingga kegiatan membuat syair tersebut dilakukan secara spontan. Agar tidak kehilangan momen, saya merekam karya-karya syair mereka dan dengan bangga saya menuliskannya pada postingan kali ini
Karya Syair Anak-anak
Ratu
Tinggal di istana
Raja dan ratu
Tinggal di istana yang paling bagus
Ratu pakai rok, raja pakai celana
Lalu ratu dan raja pakai mahkota
(Oleh Vivian Kirana Danindra, 5 tahun)
Kursi
Di sanalah engkau
Di situ bukan kursi ajaib
Disini kursi ajaib, disebelahku
Kalau begitu aku mau coba lihat
Bergerak atau tidak
(Oleh Gabriella Gendis Ayu P., 5 tahun)
Peri
Peri lagi terbang ke langit
Peri sukanya terbang ke langit
Peri lagi bermain pakai tongkat
Peri lihat pemandangan yang indah
(Oleh Alyssa Rosdiana, 5 tahun)
Putri Cinderella
Putri Cinderella lagi menanam bunga
Dan ada temennya masuk sumur
Terus bunganya disirami
Tiba-tiba disulap penyihir
(Oleh Frasisca Putri, 5 tahun)
Bingung
Aku bingung
Kenapa aku mau makan apa ya
Makan es krim tidak boleh
Makan roti juga tidak boleh
Terus mau makan apa ya
Udah ah…pulang aja ah
(Oleh Alan Pramuditya, 6 tahun)
Gendis
Mau apa Gendis ?
Terus di dalam Gendis
Terus Gendis menggambar pakai kapur
Gendis di papan tulis terus masuk papan tulis
Ketemu Rudi Cabuti ketemu Beni ketemu Smith
(Oleh Naga Pamungkas, 6 tahun)
Memang beberapa anak belum mengikuti “aturan syair” versi saya, tapi karya syair mereka benar-benar di luar dugaan saya. Apalagi mereka begitu antusias dan berebutan untuk mendapat giliran membacakan syair spontannya. Hmmm…kalau saja saya masih mengajar, mungkin lain waktu saya akan mengajak anak-anak mengarang lagu…hehehe… Atau mungkin sudah ada yang mencoba…



Wah, senang melihat karya siswanya, mbak. Kalau mengubah lirik lagu pernah saya terapkan juga ke siswa. Kalau mengarang lagu beneran belum. Asyik juga kali ya. Hm, boleh dicontek idenya nih mbak?
hebaat
INI SIAPA NAMANYA?