Guru memiliki peranan yang vital dalam implementasi KTSP. Agus Suwignyo dalam Forum Mangunwijaya (2007) menyatakan bahwa KTSP membuka ruang partisipasi kreatif guru dan pengelola sekolah dalam penjabaran rencana, metode, dan alat-alat pengajaran. Standar isi, standar kompetensi, dan kompetensi dasar kurikulum masih ditentukan pemerintah pusat, namun kontekstualisasi detailnya diarahkan kepada pengelola sekolah dan guru. Guru ditantang untuk mampu menciptakan suasana belajar yang kontekstual dan menyenangkan bagi siswa, barangkat dari pemahaman bahwa guru (dan pihak sekolahlah) yang paling paham mengenai karakteristik siswa dan lingkungan sekolahnya.
Dalam mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, tiap satuan pendidikan membentuk suatu tim yang bertugas untuk menyusunnya. Tim tersebut paling tidak terdiri dari kepala sekolah, guru, dan konselor, dan dapat melibatkan komite sekolah, nara sumber, atau pihak terkait lainnya, yang disupervisi oleh Dinas Pendidikan setempat. Tim tersebut akan melakukan suatu analisis yang meliputi (BNSP, 2006):
1. Mengidentifikasi SI dan SKL sebagai acuan dalam penyusunan KTSP.
2. Menganalisis kondisi yang ada di satuan pendidikan yang meliputi peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, biaya, dan program-program.
3. Menganalisis peluang dan tantangan yang ada di masyarakat dan lingkungan sekitar: komite sekolah, dewan pendidikan, dinas pendidikan, asosiasi profesi, dunia industri dan dunia kerja, sumber daya alam dan sosial budaya.
Guru mata pelajaran atau guru kelas memiliki porsi untuk menyusun silabus. Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian (BNSP, 2006). Sebuah silabus disusun dengan memenuhi pertanyaan-pertanyaan (1) Apa yang kompetensi yang harus dikuasai siswa, (2) Bagaimana cara mencapainya?, (3) Bagaimana cara mengetahui pencapaiannya?
Terdapat perbedaan yang khas di antara kurikulum kelas 1-3 SD dengan tingkat-tingkat di atasnya dimana menggunakan model kurikulum tematik. Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Depdiknas, 2007). Implikasinya guru harus lebih kretif, tidak hanya dalam merancang materi pembelajaran namun memetakan tema sehingga proses belajar bersifat menyeluruh dan berarti bagi siswa.
Setidaknya ada 3 latar belakang alasan pemilihan model tematik bagi siswa kelas 1-3 SD, yaitu (Depdiknas, 2007) :
1. Peserta didik kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) sehingga pembelajarannya masih bergantung kepada objekobjek konkrit dan pengalaman yang dialaminya
2. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD kelas I – III yang terpisah untuk setiap mata pelajaran, akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistic
3. Terdapat permasalahan pada kelas awal (I-III) antara lain adalah tingginya angka mengulang kelas dan putus sekolah.
Dalam penysusunan silabus, guru harus mengikuti tahapan sebagai berikut :
1. Pemetaan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dalam Tema
Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Dalam penjabarannya ke dalam indikator hendaknya memperhatikan kesesuaiannya dengan karakteristik anak didik, karakteristik mata pelajaran, dan hendaknya dirumuskan dalam kata kerja operasional yang dapat diukur.
2. Penetapan Jaringan Tema
Tema sebenarnya dapat ditentukan lebih dahulu, dengan tentu saja memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Yang terpenting dalam menentukan tema harus memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa, memperhatikan usia, perkembangan, minat dan kebutuhan siswa, pengurutan tema dari yang mudah ke sulit, dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, serta harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada siswa. Tema, kompetensi dasar, dan indikator akan saling berhubungan satu sama lain sehingga membentuk suatu keterakaitan yang disebut jaringan tema.
3. Pembuatan Silabus
Komponen silabus terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, pengalaman belajar, alat/sumber, dan penilaian
Dalam KTSP, sedapat mungkin guru menyusun secara mandiri silabusnya, namun bila tidak memungkinkan dapat bekerja sama dengan guru-guru lain. Di tingkat sekolah dasar guru-guru dari kelas 1 sampai kelas 6 dapat bekerja sama membuat silabus. Guru-guru yang merasa kesulitan dalam menyusun kurikulum dapat bergabung dengan guru-guru dari sekolah dasar lain misalnya dalam forum KKG (Kelompok Kerja Guru) untuk membuat silabus bersama. Forum KKG ini dapat dioptimalkan sehingga tidak hanya diwarnai dengan pertemuan yang bersifat kedinasan semata, namun lebih sebagai wahana untuk guru saling menggali, mendiskusikan, dan mencari solusi dari permasalahan kurikulum dan pembelajaran. Selama ini KKG memang masih lebih banyak diwarnai dengan kegiatan dinas, misalnya sarat instruksi dan ceramah dari supervisor pendidikan atau Dinas Pendidikan (JC Tukiman Taruna dalam Forum Mangunwijaya, 2007). Dinas Pendidikan berperan sebagai fasilitator misalnya dengan menyediakan guru-guru yang berpengalaman untuk membantu proses pembuatan silabus tersebut.
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa kurikulum hanyalah salah satu sarana agar visi pendidikan dapat teraplikasikan. Di sisi lain ada faktor lainnya misalnya kecakapan guru misalnya dalam menciptakan suasana pembelajaran. Suasana pembelajaran yang sesuai dengan amanat KTSP adalah proses yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM). Kurikulum hanyalah sebagai alat dalam PAKEM sedangkan guru yang cerdas adalah guru yang mampu menciptakan PAKEM ini (JC Tukiman Taruna dalam Forum Mangunwijaya, 2007).
Referensi
BSNP, 2006, Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta : Badan Standar Nasional Pendidikan
Depdiknas, 2007, Materi Sosialisasi dan Pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Sekolah Dasar : PowerPoint, Jakarta, Departemen Pendidikan Nasional
Forum Mangunwijaya, 2007, Kurikulum yang Mencerdaskan : Visi 2030 dan Pendidikan Alternatif, Jakarta, Penerbit Buku Kompas



ko tulisannya ga ada rujukannya ? trims
thanks mas aldi…sudah saya tambahkan referensinya…semoga berguna
KTSP kini sudah berjalan meskipun masih ada waktu untuk memulainya paling lambat th 2009/2010. namun, yang terjadi, apa yang menjadi “rih” dan hakikat KTSp ndak bisa jalan, mbak unita. contoh yang paling menarik ttg penyusunan silabus dan RPP. idealnya, setiap sekolah berbeda karena karakteristiknya berbeda. ironisnya, silabus dan rpp itu hanya hasil kopipes beratai *halah* akibatnya, ktsp jadi kurikulum tetap sama produknya.
Yah…ironis ya, pak…mungkin karena guru-guru kita kurang siap…yah…maklum dulu produksi pendidikan yang mengekang kreatifitas, sehingga susah diajak berkreatifitas dan melakukan perubahan. Tapi kita tidak boleh pesimis…semoga makin banyak guru kita yang berani mencoba silabus karyanya
terima kasih pak, berkenan mampir…
tolong saya butuh contoh RPP KTSP SD kelas 1, terutama yang menekankan pelajaran IPA
durung mari model siji metu maneh model ktsp, wiss pokoke KTSP kurikulum terserah sampeyan
Wah, Miss Unita, saya ndak tau kalau ditempat Anda guru2 juga suka copy-paste silabus n RPP dari sekolah lain yang notabene karakteristiknya pasti ndak sama. Di tempat saya RPP dan silabus juga dibuat bersama2, lalu dipakai di sekolah yang berbeda, dan sepertinya tanpa diadaptasi terlebih dahulu agar sesuai dengan kondisi sekolah masing2.
@ ardani : sementara ini saya belum bisa bantu, semoga ada rekan lain yang baca ini dan bisa bantu
@ cak munir : betul kok cak, terserah sampeyan…be creative gitu loh…
@ suhadinet : saya sih sudah cuti jadi guru, pak…cuman saya banyak baca artikel guru2 pada mengeluh bikin silabus & RPP,. Ujung2nya gak mau susah dan copy paste…Salut banget, buat pak suhadi dan rekan2 di Borneo sana
Coba saja intip blognya…
tolong download situs silabus dimana ya ………
pak sunandar, kalau saya beberapa kali buka http://ktsp.diknas.go.id. Bisa dicoba
Saya melihat adanya pergantian model kurikulum yg terbaru ini sangat membingungkan baik bagi kalangan pendidik maupun anak didik. Terutama model pembelajaran Tematik yg dikhususkan utk kelas 1-3. Dimana melalui model pembelajaran Tematik ini anak di tuntut untuk dapat berpikir holistic.
namun kenyataan yang terjadi, guru sulit untuk menerapkannya ke dalam proses belajar mengajar dikarenakan harus bertumpu dengan satu tema yang ada. Pada akhirnya ditengah semester dan akhir semester anak akan dihadapi dengan Ujian yang mana Ujian tersebut berdasarkan per mata pelajaran.
Yang jelas KTSP kata siapa?
Memang jadi membingungkan bila tidak ada sosialisasi sebelumnya. Lebih membingungkan lagi bagi guru yang telah terbiasa menggunakan materi ajar yang telah siap pakai. Sebenarnya bukan anak yang dituntut berpikir holistik, namun lebih tepatnya guru. Anak-anak kelas 1-3 SD tersebut memang lebih mudah memahami hal-hal yang saling berkaitan untuk tiap subjek pelajaran. Memang saya belum terjun langsung namun yang jadi pertanyaan bila tematik nya sudah disusun sedemikian rupa maka dengan model evaluasi apa saja pasti bisa. Sebenarnya model tematik ini yang digunakan di tingkat pra sekolah. Mungkin guru-guru SD perlu belajar dari guru-guru TK mengenai model ini.
Tolong dong RPP KTSP IPS SD Kelas VI ……Please
tolong tampilkan KTSP SD, Silabus, RPP dan buku-buku murah SD. dari SD Jatimulya II Kabupaten Indramayu Prop. Jawa Barat
q bingun dengan perubahan yg terjadi dalam proses belajar mengajar ne!!!
aslm..
KTSP.. tau KaTe SiaPe??hehe…
memang kalo dipelajari secara detail, KTSP sungguh menarik secara teori..
tapi saat asya liat di lapangan, Guru2 SD di daerah saya (kota bengkulu), GURU2 MALAH GAG NGERTI TUH APA ktsp..
mereka bahkan gag terlalu ngerti buat RPPnya..
hahhh… emang susah kalo sosialisasinya gag jelas gini..
nah, waktu kami2 para mahasisa ini turun ke
SD membawa pembaruan baik dalam hal Pembelajaran, penggunaan media, strategi, dll, eehh malah ditolak ma tuh guru2 tua,, kata mereka, mereka lebih senoir..
okeeee laaaaahh,, n__n
jadi, semoga saja saya dan teman2 yang bentar lagi lulus ini bisa menjadi agent of change untuk pendidikan kita, khususnya pendidikan SD.. aaamiiin…. >_<
salam kenal semuanya!!!
waslm.
untuk bisa melaksanakan KTSP perlu Guru yang super kreatif dan Inovatif…tanpa kedua itu,KtSP tidak akan efektif.
KTSP dari sisi guru, sangat membutuhkan guru yang sangat kreatif,cerdas, punya waktu banyak dan juga guru yang loyal sebagai “pendidik” bukan sebagai “pengajar”, tetapi kenyataaan dilapangan sangat sulit sekali mencari guru seperti ini..apalagi guru-guru sekolah swasta dengan gaji pas-pasan…koq mikirin silabus, mikiran susu untuk anaknya saja sudah membuat linglung.
KTSP dari sisi siswa, dengan model tematik dan pemahaman seperti itu akhirnya, untuk anak-anak kelas 1 yang baru masuk harus sudah bisa baca, tulis dan hitung dasar padahal tidak semua TK yang mengajarkan lancar baca tulis, sehingga sinkronisasi dari TK ke SD terputus….sehingga untuk mengejar hal ini sudah trend kalau anak TK selain sekolah juga ambil les tambahan….ujung-ujungnya hanya orangtua yang mempunyai duit kelebihan yang sanggup mengirimkan anaknya les…sehingga sekolah itu mahal
KTSP…oh KTSP…