Menghadapi quarter-life crisis, beberapa teman sering mendiskusikan betapa susahnya mencari teman hidup. “Cari pacar sih gampang, tapi cari suami/isteri itu lho…”. Setelah saya sendiri sudah mampu melewatinya (setelah menikah) tak jarang teman-teman bertanya, “Gimana sih, kok kamu yakin banget mau nikah?”, “Apa sih pertimbangannya?”. Awalnya sih memang agak bingung menjawabnya, karena semua itu melalui proses yang tidak sederhana, walaupun tidak rumit juga.
Cinta…yah itu memang syarat yang mutlak ada dalam menentukan pasangan. Saya pribadi sih tidak akan menjalin hubungan khusus kalau tidak ada cinta. Tapi secara teoretis, cinta itu banyak macamnya. Dalam suatu penelitian yang dimuat di Psychology Today didapatkan bahwa sebagian besar reponden juga berpendapat begitu. Secara rinci hal-hal terpenting dalam hubungan lawan jenis adalah cinta (53%), companionship (32%), romantisme (4%), jaminan financial (2%), dan seks (1%). Sedangkan hal-hal lain yang juga dianggap penting adalah integritas, sense of humor,dan sensitivitas.
Macam-macam cinta itu ditentukan oleh ada tidaknya faktor-faktor cinta, yaitu intimacy, commitment, dan passion. Dari situ dapat diperoleh berbagai tipe-tipe cinta yaitu :
1. Friendship, hanya didasari faktor intimacy.
2. Infatuation, hanya didasari oleh faktor passion.
3. Empty Love, hanya didasari oleh faktor commitment.
4. Romance, didasari oleh faktor passion dan intimacy
5. Lustful companionship, didasari oleh faktor commitment dan passion
6. Companionship, didasari oleh faktor commitment dan intimacy
7. True Love, didasari oleh faktor commitment, intimacy, dan passion.
Dari pemaparan itu dapat disimpulkan True Love memiliki derajad tertinggi. Idealnya dalam pernikahan cinta macam itu yang harus ada, karena memang dibutuhkan dalam kehidupan pernikahan selanjutnya. Pernikahan jelaslah suatu komitmen, dimana masing-masing pasangan bersedia dan terikat dengan hak serta kewajiban dalam ikatan tersebut. Intimacy membuat kedua pasangan merasa nyaman, membantu keduanya untuk dapat saling terbuka satu sama lain. Faktor passion jelaslah penting, karena pernikahan sendiri merupakan lembaga sah untuk meneruskan keturunan, dan hal itu hanya dapat terlaksana melalui hubungan seks.
Ada lagi hal lain yang penting dalam menentukan pasangan, yaitu COMPATIBILITY. Saya agak kesulitan untuk mencari padanan kata yang tepat dari istilah ini (mungkin kecocokan yah…) yang jelas ada beberapa elemen mendasar dalam compatibility dalam pernikahan, yaitu :
1. Intelectual compatibility, artinya pasangan hendaknya memiliki kemampuan intelektual yang seimbang. Paling mudah sih dilihat dari pendidikan, walau tidak mutlak. Yang jelas tingkat intelektual yang seimbang akan membantu dalam berdiskusi, sharing, sehingga tidak ada salah satu pihak yang merasa “gak nyambung”.
2. Emotional compatibility, artinya pasangan hendaknya memiliki nilai yang sama mengenai cinta. Kalau dari penjabaran sebelumnya masing-masing pasangan memiliki nilai yang sama tentang keberadaan commitment, intimacy, dan passion
3. Work compatibility, artinya pasangan hendaknya memiliki nilai-nilai etis yang sama mengenai pekerjaan. Tidak jarang latar belakang pekerjaan yang sama menjadi pengikat pernikahan, namun yang paling penting adalah kedua pasangan memiliki kesepakatan mengenai peranan kerja dalam kehidupan pribadi dan sosialnya.
4. Family compatibility, artinya setiap pasangan dapat menerima keluarga pasangan yang lain begitu pula dengan keluarganya dapat menerima keluarga yang lain. Latar belakang sosial ekonomi keluarga yang sama biasanya memang memudahkannya, namun yang paling penting adalah kesanggupan untuk menerima satu sama lain. Tidak dapat dipungkiri bahwa masing-masing keluarga memiliki keunikan dan kebiasaan masing-masing yang bisa jadi bertentangan dengan nilai-nilai keluarga kita. Seperti yang kita sering dengar bahwa pernikahan bukan hanya menyatukan 2 manusia tapi juga 2 keluarga. Selain itu family compatibility ini akan membantu pasangan dalam merancang dan membangun keluarga mereka sendiri. Kesepakatan kedua belah pihak mutlak diperlukan untuk menentukan nilai-nilai keluarga mereka kelak, misalnya dalam pengasuhan anak, pembagian tugas, dan lain sebagainya.
5. Spiritual compatibility, artinya setiap pasangan memiliki nilai spiritual yang sama atau paling tidak memiliki kesanggupan yang sama untuk menerima nilai-nilai spiritual pasangan. Idealnya tiap pasangan memiliki nilai spiritual yang sama namun tidak jarang pernikahan dengan nilai-nilai spiritual yang berbeda bahkan bertentangan juga berhasil.
6. Social life compatibility, artinya setiap pasangan memiliki nilai-nilai yang sama dalam bersosialisasi dengan orang lain. Hal ini dapat dilihat dari keterlibatan dalam organisasi, pergaulan dengan teman-teman. Bayangkan saja bila salah satu pihak mudah akrab dengan lawan jenisnya, dan pasangannya cenderung tertutup dengan lawan jenisnya, maka konflik di wilayah ini cenderung mudah timbul.
7. Money compatibility, artinya masing-masing pasangan memiliki kesepakatan mengenai nilai pentingnya uang dan penggunaannya. Misalnya dapat dilihat dari kebiasaan menabung, investasi, dan mengkonsumsi.
8. Sex compatibility, artinya tiap-tiap pasangan memiliki ketertarikan seks yang sama dan memiliki nilai-nilai yang sama mengenai hubungan seksual. Dalam budaya kita biasanya menyangkut batas-batas hubungan seksual sebelum menikah.
Buat saya, 8 compatibility inilah yang menjadi pertimbangan terbesar dalam menentukan pasangan hidup. Bagaimana kita mengetahui kita cukup kampatibel untuk pasangan kita dan sebaliknya? Tentu saja dengan mendiskusikannya. Jadi bila benar-benar sudah serius dan ingin menikah cobalah untuk mendiskusikan hal-hal tersebut. Mungkin dapat kita sejajarkan ketika kita melakukan interview pekerjaan – lemparkanlah pertanyaan sebanyak mungkin untuk mendapatkan gambaran pasangan kita. Bila saja kita merasa kurang kompatibel, maka ada 2 pilihan yaitu diskusikanlah untuk mendapatkan kesepakatan atau bila sudah mentok segera say goodbye (duh, ekstrim banget sih…tapi daripada nantinya menjadi hubungan yang tidak jelas ujungnya sedangkan di satu sisi sudah ingin menikah…). Oh iya…saya jadi teringat dengan kata mutiara dari salah satu penulis favorit saya, Antoine de Saint-Exupery :
“Love does not consist in gazing at each other but looking in the same direction together”



Nice post mba’
bisa mengempiriskan sesuatu yang bernama cinta…luar biasa.
tapi bagi saya menikah adalah sesuatu yang sederhana.
pertama, ada keinginan. itu adalah modal utama, Tuhan akan memudahkannya ketika niatan sudah bulat, mengenai siapa yang diberikan, itu adalah cerminan diri kita sendiri, kalau kita baik, pasti yang dateng juga baik, tapi kalo kita ancur ya saya doakan dapet yang baek, supaya bisa memperbaiki diri =)
see u in next post
beruntung mas dianugerahi pemikiran yang simple seperti itu…yang lain boleh mengikutinya…
good opinion… menambahkan aja
bahwa untuk spiritual compatibility sebaiknya juga harus sama. Memang banyak pasangan yang berhasil walaupun berbeda level spritual bahkan saling bertolak belakang.
Tapi yang aku tau kalo pasangan yang sama-sama sholeh itu lebih menjanjikan.
Bahkan spritual compatibility ini menurutku adalah hal pertama dan utama, hal yang paling mutlak.
Kalaupun beda level, pasangan kita harus mau dan commit untuk kita didik sehingga minimal level spiritualnya sama dengan kita. Lumayan, kita juga dapat pahala karena mendidik pasangan kita ke arah yang lebih baik.
Betul ga sih? atau gimana ya?
good opinion too, buat banyak orang (termasuk saya) juga menjadikan hal ini sebagai hal yang utama, karena bagi saya pernikahan sendiri memiliki nilai spiritual yang kuat…thx udah sudi mampir